Apa itu Diabetes?
Simak Penjelasan berikut ini !

17/11/2020

Diabetes adalah penyakit kronis yang serius. Faktanya, dua dari tiga penderita diabetes akan meninggal karena penyakit jantung, seperti serangan jantung atau stroke. Namun, diabetes dapat dikontrol dengan pengobatan yang tepat dan perubahan gaya hidup.

Diabetes adalah  sekelompok penyakit yang memengaruhi cara tubuh kita menggunakan gula darah (glukosa). Glukosa sangat penting untuk kesehatan kita karena glukosa merupakan sumber energi yang penting untuk sel-sel otot maupun jaringan kita. Glukosa juga merupakan sumber bahan bakar utama otak kita. Ada 2 jenis utama diabetes, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2.

Penyebab

Diabetes merupakan penyakit yang melibatkan masalah dengan hormon insulin. Biasanya, pankreas melepaskan insulin untuk membantu tubuh menyimpan serta menggunakan gula dan lemak dari makanan yang dimakan. Diabetes dapat terjadi ketika pankreas menghasilkan sangat sedikit atau tidak ada insulin, atau ketika tubuh tidak merespon terhadap insulin dengan tepat. Sampai saat ini belum ada obatnya. Penderita diabetes perlu mengontrol penyakitnya agar tetap sehat.

Untuk memahami diabetes, pertama kita harus memahami bagaimana glukosa biasanya diproses di dalam tubuh.

Cara Kerja Insulin

Insulin adalah hormon yang berasal dari kelenjar pankreas yang terletak di belakang dan di bawah lambung.

  • Pankreas mengeluarkan insulin ke dalam aliran darah.
  • Insulin bersirkulasi, memungkinkan gula masuk ke sel.
  • Insulin menurunkan jumlah gula dalam aliran darah.
  • Saat kadar gula darah kita turun, begitu pula sekresi insulin dari pancreas.

Peran Glukosa

  • Glukosa berasal dari dua sumber utama: makanan dan hati kita.
  • Gula diserap ke dalam aliran darah, di mana ia memasuki sel dengan bantuan insulin.
  • Hati kita menyimpan dan membuat glukosa.
  • Ketika kadar glukosa kita rendah, seperti saat kita tidak makan untuk beberapa lama, hati memecah glikogen yang disimpan menjadi glukosa untuk menjaga kadar glukosa Anda dalam kisaran normal.

Penyebab diabetes tipe 1

Penyebab pasti dari diabetes tipe 1 tidak diketahui. Apa yang diketahui adalah bahwa sistem kekebalan kita – yang biasanya melawan bakteri atau virus berbahaya – menyerang dan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Hal ini membuat tubuh kita memiliki sedikit atau tanpa insulin. Alih-alih diangkut ke dalam sel kita, gula menumpuk di aliran darah kita.

Diabetes tipe 1 diperkirakan disebabkan oleh kombinasi kerentanan genetik dan faktor lingkungan, meskipun faktor-faktor tersebut masih belum jelas. Berat badan diyakini tidak menjadi faktor penyebab diabetes tipe 1.

Penyebab prediabetes dan diabetes tipe 2

Pada prediabetes – yang dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2 – dan pada diabetes tipe 2, sel kita menjadi resisten terhadap tindakan insulin, dan pankreas kita tidak dapat membuat cukup insulin untuk mengatasi resistensi ini. Alih-alih pindah ke sel yang membutuhkan energi, gula menumpuk di aliran darah Anda.

Penyebab diabetes tipe 2 masih belum pasti, meskipun diyakini bahwa faktor genetik dan lingkungan juga berperan dalam perkembangan diabetes tipe 2. Kelebihan berat badan sangat terkait dengan perkembangan diabetes tipe 2, tetapi tidak semua orang dengan tipe 2 kelebihan berat badan.

Faktor Risiko Diabetes

Faktor risiko diabetes tipe 1, antara lain:

  • Faktor riwayat keluarga atau keturunan, yaitu ketika seseorang akan lebih memiliki risiko terkena diabetes tipe 1 jika ada anggota keluarga yang mengidap penyakit yang sama, karena berhubungan dengan gen tertentu.
  • Faktor geografi, orang yang tinggal di daerah yang jauh dari garis khatulistiwa, seperti di Finlandia dan Sardinia, berisiko terkena diabetes tipe 1. Hal ini disebabkan karena kurangnya vitamin D yang bisa didapatkan dari sinar matahari, sehingga akhirnya memicu penyakit autoimun.
  • Faktor usia. Penyakit ini paling banyak terdeteksi pada anak-anak usia 4-7 tahun, kemudian pada anak-anak usia 10-14 tahun.
  • Faktor pemicu lainnya, seperti mengonsumsi susu sapi pada usia terlalu dini, air yang mengandung natrium nitrat, sereal dan gluten sebelum usia 4 bulan atau setelah 7 bulan, memiliki ibu dengan riwayat preeklampsia, serta menderita penyakit kuning saat lahir.

Faktor risiko diabetes tipe 2, antara lain:

  • Berat badan berlebih atau obesitas.
  • Distribusi lemak perut yang tinggi.
  • Gaya hidup tidak aktif dan jarang beraktivitas atau berolahraga.
  • Riwayat penyakit diabetes tipe 2 dalam keluarga.
  • Ras kulit hitam, hispanik, Native American, dan Asia-Amerika, memiliki angka pengidap lebih tinggi dibandingkan dengan ras kulit putih.
  • Usia di atas 45 tahun, walaupun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi sebelum usia 45 tahun.
  • Kondisi prediabetes, yaitu ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tapi tidak cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes.
  • Riwayat diabetes saat hamil.
  • Wanita dengan sindrom ovarium polikistik, yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebihan, dan obesitas.

Gejala Diabetes

Beberapa gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2, antara lain:

  • Sering merasa haus.
  • Frekuensi buang air kecil meningkat, terutama pada malam hari.
  • Rasa lapar yang terus-menerus.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
  • Lemas dan merasa lelah.
  • Pandangan yang kabur.
  • Luka yang lama sembuh.

Sering mengalami infeksi pada kulit, saluran kemih, gusi, atau vagina.

Diagnosis Diabetes

Gejala diabetes biasanya berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Dikarenakan diabetes seringkali tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, maka orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin. Di antaranya adalah:

  • Orang yang berusia di atas 45 tahun.
  • Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil.
  • Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25.
  • Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes.

Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak akan dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu. Metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh pasien, antara lain:

Tes gula darah sewaktu

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes.

Tes gula darah puasa

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

Tes toleransi glukosa

Tes ini dilakukan dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

Tes HbA1C (glycated haemoglobin test)

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal. Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes. Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes.

Hasil dari tes gula darah akan diperiksa oleh dokter dan diinformasikan kepada pasien. Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan merencanakan langkah-langkah pengobatan yang akan dijalani. Khusus bagi pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas.

Pengobatan Diabetes

Pasien diabetes diharuskan untuk mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan rendah kalori dan lemak. Bila perlu, pasien diabetes juga dapat mengganti asupan gula dengan pemanis yang lebih aman untuk penderita diabetes, sorbitol. Pasien diabetes dan keluarganya dapat berkonsultasi dengan dokter atau dokter gizi untuk mengatur pola makan sehari-hari.

Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien diabetes dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap hari. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter untuk memilih olahraga dan aktivitas fisik yang sesuai.

Pengobatan diabetes tipe 1, antara lain:

  • Hormon tertentu untuk mengontrol glukosa darah. Pemberian hormon ini dengan cara disuntikkan pada lapisan di bawah kulit sekitar 3-4 kali sehari sesuai dosis yang dianjurkan dokter.
  • Pola makan sehat dan olahraga teratur untuk membantu mengontrol tingkat glukosa darah.
  • Merawat kaki dan memeriksakan mata secara berkala untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
  • operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas untuk mengganti pankreas yang mengalami kerusakan. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun harus mengonsumsi obat secara rutin.

Pengobatan diabetes tipe 2, antara lain:

  • Menjalani perilaku hidup sehat
  • Mengkonsumsi obat-obatan diabetes dibawah pengawasan dokter.( contohnya adalah: metformin, obat minum yang berfungsi untuk menurunkan produksi glukosa dari hati. Selain itu, obat diabetes lain yang bekerja dengan cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi setelah pasien makan, juga dapat diberikan.

Menjalani perilaku hidup sehat, yakni:

  • Menghindari makanan berkadar glukosa tinggi atau berlemak tinggi khususnya lemak jenuh dan lemak trans (contoh: daging berlemak dan susu fullcream).
  • Meningkatkan makanan tinggi serat.
  • Melakukan olahraga secara teratur, dilakukan 3 – 5 hari seminggu selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit setiap minggu, dengan jeda Latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut..
  • Menurunkan dan menjaga berat badan tetap ideal.
  • Menghindari atau berhenti merokok.
  • Menghindari atau berhenti mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Menjaga kesehatan kaki dan mencegah kaki terluka.
  • Memeriksa kondisi kesehatan mata secara rutin.

Komplikasi diabetes

Komplikasi jangka panjang diabetes berkembang secara bertahap. Semakin lama menderita diabetes – dan gula darah kurang terkontrol – semakin tinggi risiko komplikasi. Akhirnya, komplikasi diabetes dapat melumpuhkan atau bahkan mengancam jiwa. Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

  • Penyakit jantung.
  • Stroke
  • Kerusakan saraf (neuropati).
  • Kerusakan ginjal (nefropati).
  • Gangguan Penglihatan.
  • Katarak
  • Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh
  • Kerusakan kulit akibat infeksi bakteri dan jamur, termasuk bakteri pemakan daging
  • Gangguan pendengaran.
  • Penyakit Alzheimer. 
  • Depresi.

Pencegahan Diabetes

Menurut ADA, tips pencegahan diatebes adalah:

1. Lakukan lebih banyak aktivitas fisik

Ada banyak manfaat melakukan aktivitas fisik secara teratur. Olahraga dapat membantu Anda:

  • Menurunkan berat badan
  • Menurunkan kadar gula darah
  • Meningkatkan sensitivitas terhadap insulin – yang membantu menjaga gula darah dalam kisaran normal
  • Penelitian menunjukkan bahwa latihan aerobik dan latihan ketahanan dapat membantu mengendalikan diabetes. Manfaat terbesar berasal dari program kebugaran yang mencakup keduanya.

2. Konsumsi banyak serat

Mengonsumsi Serat dapat membantu Anda:

  • Mengurangi risiko diabetes dengan meningkatkan kontrol gula darah
  • Menurunkan risiko penyakit jantung
  • Meningingkatkan penurunan berat badan dengan membantu Anda merasa kenyang
  • Makanan berserat tinggi antara lain buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian dan kacang-kacangan.

3. Konsumsi serealia utuh  (sejenis biji-bijian)

Tidak jelas alasannya, tetapi serealia utuh dapat mengurangi risiko diabetes dan membantu menjaga kadar gula darah. Cobalah untuk membuat setidaknya setengah dari serealia utuh.

Banyak makanan yang terbuat dari serealia utuh siap untuk disantap, termasuk berbagai roti, produk pasta, dan sereal. Carilah kata “utuh” pada kemasan dan di antara beberapa item pertama dalam daftar bahan.

4. Menurunkan berat badan yang berlebih

Jika kelebihan berat badan, pencegahan diabetes mungkin bergantung pada penurunan berat badan. Setiap pon yang Anda hilangkan dapat meningkatkan kesehatan Anda, dan Anda mungkin terkejut dengan seberapa banyak. Peserta dalam satu penelitian besar yang kehilangan sejumlah kecil berat badan – sekitar 7 persen dari berat badan awal – dan berolahraga secara teratur mengurangi risiko terkena diabetes hingga hampir 60 persen.

5. Hindari diet iseng dan buatlah pilihan yang lebih sehat

Diet rendah karbohidrat, diet indeks glikemik, atau diet mode lainnya dapat membantu menurunkan berat badan pada awalnya. Tetapi efektivitasnya dalam mencegah diabetes dan efek jangka panjangnya tidak diketahui. Dan dengan mengecualikan atau membatasi secara ketat kelompok makanan tertentu, anda mungkin kehilangan nutrisi yang esensial dan sering kali mendambakan makanan semacam itu. Sebaliknya, jadikan variasi dan kontrol porsi sebagai bagian dari rencana makan sehat anda.

Referensi

PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2019. Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia.Medscape 2020. Diabetes Type 1
Medscape 2020. Diabetes Type 2
WebMD 2020. Diabetes Health Center
Mayoclinic 2020. Diabetes – Symptoms and Causes Mayoclinic 2019. Diabetes prevention: 5 tips for taking control