WHO Resmi Izinkan Pfizer/Biontech, Vaksin China Apa Kabar?

CNBC Indonesia 01 January 2021 10:15

A box for a COVID-19 immunoglobin treatment is displayed at an exhibit by Chinese pharmaceutical firm Sinopharm at the China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) in Beijing, Saturday, Sept. 5, 2020. With the COVID-19 pandemic largely under control, China's capital on Saturday kicked off one of the first large-scale public events since the start of the coronavirus outbreak, as tens of thousands of attendees were expected to visit displays from nearly 2,000 Chinese and foreign companies showcasing their products and services. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Foto: Vaksin COVID-19 ditampilkan oleh perusahaan farmasi China Sinopharm di Pameran Internasional China untuk Perdagangan Jasa (CIFTIS) di Beijing, Sabtu (5/9/2020). (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Jakarta, CNBC Indonesia – Pfizer/BioNTech akhirnya mendapatkan ijin untuk pemakaian darurat vaksin corona dari World Health Organization atau WHO. Pemberian pada Pfizer/BioNTech ini dikonfirmasi langsung oleh pejabat tinggi WHO, Mariangela Simao.

“Ini adalah langkah yang sangat positif untuk memastikan akses global ke vaksin Covid-19,” kata dia, dikutip dari¬†AFP, Jumat (1/1/2021).

Baca: Pengumuman: WHO Restui Penggunaan Vaksin Pfizer/BioNTech

Persetujuan tersebut jadi yang pertama diberikan oleh WHO pada vaksin Covid-19 yang telah ada di dunia saat ini. Walau sudah mengeluarkan izin, Simao mengingatkan untuk ada upaya lebih besar agar pasokan vaksin bisa mencukupi kebutuhan yang ada.

Lalu bagaimana dengan vaksin dari China?

Baca: Simak Ramalan Bill Gates Soal Pandemi Corona di 2021

WHO belum memberikan kejelasan soal nasib vaksin ini. Namun di negara asalnya, vaksin Sinopharm telah mendapatkan izin bersyarat dari regulator setempat.

Sinopharm mendapatkan izin pertama yang dikeluarkan pemerintah China untuk penggunaan secara umum. Persetujuan hadir satu sehari setelah data interim uji klinis fase tiga vaksin menunjukkan efektivitasnya mencapai 79,34%.

Izin bersyarat tersebut diartikan sebagai penelitian masih akan berlanjut dan regulator dapat meminta banyak data keamanan dan efektivitas vaksin di kelompok tertentu. Biasanya pemberian vaksin akan dibatasi pada kelompok usia tertentu.

Persetujuan tersebut juga datang setelah Sinopharm mendapatkan izin penggunaan darurat nan kontroversial dari pemerintah China pada Juli 2020. Saat itu vaskin dapat disuntikkan untuk masyarakat yang masuk dalam kategori beresiko tinggi misalnya tenaga kesehatan, militer dan diplomat.

Hingga November disebutkan telah ada 1 juta masyarakat China disuntikkan vaksin Sinopharm. Selain Sinopharm China memiliki dua kandidat vaksin lain, CanSino dan Sinovac.